Langsung ke konten utama

Apakah Aku Perlu Keluar dari Zona Nyaman?

perlukah keluar dari zona nyaman

Keluarlah dari zona nyaman untuk mencapai kesuksesan

Kalimat itu tentu sudah tak asing lagi. Lingkungan kerap menuntut kita untuk melakukan standar mereka, salah satunya membuat kita secara sadar maupun terpaksa untuk keluar dari zona nyaman. Apakah setelah keluar, semuanya akan berjalan dengan baik? Apakah ini sesuai keinginan mereka? Seberapa jauh jaraknya hingga disebut sebagai keluar dari zona nyaman?

Merangkum dari beberapa sumber yang aku baca, ada pro dan kontra tentang pernyataan “keluar dari zona nyaman”. Sebelum membaca lebih lanjut, berada di zona manakah kamu saat ini? Apakah masih berada di zona nyaman? Atau telah keluar dari zona nyaman?

Dampak Negatif, Jika Tetap Tinggal di Zona Nyaman

Mereka yang kontra dengan “tinggal di zona nyaman” dan memilih untuk keluar, memiliki beberapa alasan.

1. Tidak bisa bertumbuh

Jika kamu cenderung terlena dalam zona nyaman, kamu tidak akan pernah mencoba pengalaman baru yang memiliki peluang untuk berkembang. Bahkan, kamu bisa kehilangan semangat untuk bertumbuh karena merasa sudah berada pada posisi yang aman.

2. Tidak ada usaha, tidak ada hasil

Pernah dengar ungkapan “Nothing ventured, nothing gained”. Jika kamu tidak berani untuk mencoba, maka tidak ada hal yang kamu peroleh. Ketika kamu memutuskan untuk stay di zona nyaman, kamu mungkin akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan hal yang lebih besar (pengalaman maupun reward).

3. Tidak akan mempelajari skill baru

Apabila kamu tidak keluar dari zona nyaman, kamu hanya mempelajari keterampilan yang menjadi kekuatanmu saja. Kamu tidak akan mempelajari skill baru yang bisa mengurangi kelemahan yang kamu miliki.

4. Kehilangan kesempatan untuk melebarkan zona nyaman

Mengapa? Keluar dari zona nyaman akan membuatmu mempelajari hal baru, jika ini dilakukan berulang-ulang akan menjadi kebiasaan yang nantinya berpeluang menjadi keahlian barumu. Kamu akan semakin cakap dalam hal tersebut, sama seperti saat kamu melakukan hal-hal yang berada dalam zona nyamanmu. Ini akan menjadi bagian dari zona nyamanmu.

Tetap Tinggal di Zona Nyaman, Apakah Buruk?

Dikutip dari laman Waldenu, beberapa alasan mengapa ada yang pro untuk tetap tinggal di zona nyaman. Tidak selalu buruk, ada hal yang justru bisa menjadi kekuatan.

1. Menciptakan pengalaman berulang

Kamu memiliki pengalaman yang cukup baik untuk hal-hal tertentu karena kamu sering melakukannya. Ini akan menjadikan dirimu semakin cakap dalam hal tersebut. Bahkan jika ini berkaitan dengan lingkungan sosial, kamu akan dikenal banyak orang sebagai yang ahli dalam bidang tersebut.

2. Percaya diri

Selain nyaman, zona yang kamu tempati juga terasa aman karena kamu terbiasa melakukannya. Hal ini akan menjadikanmu semakin percaya diri dan meminimalisir timbulnya kecemasan.

3. Resiko kecil

Karena ini menjadi hal yang biasa kamu lakukan, sehingga kamu tau cara menghadapi dan menyelesaikannya. Bahkan, ketika timbul masalah kamu dapat dengan mudah menemukan solusi, sehingga minim resiko kegagalan.

4. Mengembalikan energi

Jika suatu kondisi mengharuskan kamu harus keluar dari zona nyaman, ini mungkin akan menguras energimu. Tapi, ketika hal tersebut telah selesai dan kamu bisa kembali ke tempatmu semula, kamu akan merasakan kembali energi terpenuhi.

5. Tidak menguras energi

Karena kamu menyukai apa yang ada di dalam zona tersebut, sehingga setiap hal yang kamu lakukan bukanlah sebuah beban. Kamu akan merasa mengerjakan sesuatu dengan senang dan menyelesaikan lebih cepat, karena biasa kamu lakukan sehari-hari.

Lantas, Apakah aku perlu keluar dari zona nyaman atau tetap tinggal?

tinggal atau keluar dari zona nyaman
Illustration by kinah_d via Canva

Apakah ini juga menjadi pertanyaan yang kerap muncul dalam dirimu? Ketika kamu melakukan sesuatu di zona nyamanmu, dan mendapatkan tuntutan untuk keluar dari zona nyaman. Padahal mungkin dalam zona yang terlihat nyaman itu, kamu berkali-kali merasakan ketidaknyamanan saat berhadapan dengan suatu hal. Orang lain tidak melihatnya, sehingga mereka mengganggapmu masih tinggal di zona nyaman dan memintamu untuk keluar dari zona tersebut agar bisa sukses.

Perluas Zona Nyaman, Tanpa Harus Keluar

Apa maksudnya? Keluar dari zona nyaman identik dengan melakukan sesuatu yang bahkan tidak pernah kita lakukan sebelumnya. Dalam artikel Webmd, Rhonda Britten, seorang penulis dan pendiri Fearless Living Institude tidak sependapat dengan pernyataan “keluar dari zona nyaman”, karena zona nyaman adalah tempat yang aman bagi kita.

Britten mengatakan bahwa zona nyaman merupakan tempat untuk mengisi ulang energi di dunia yang terus berubah dengan berbagai tuntutan ini.  Disinilah kita bisa menghemat energi, tanpa melakukan sesuatu yang ekstra keras. Namun, sayangnya beberapa masih kontra dengan istilah “tinggal di zona nyaman”. Mereka kerap berpikir bahwa itu hal yang buruk, berpura-pura tidak membutuhkan zona nyaman, yang akhirnya meningkatkan stres sepanjang waktu.

Ketika tuntutan lingkungan mengatakan “keluarlah dari zona nyaman”, Britten justru menyarankan untuk membangun zona nyaman yang ada, tanpa harus berubah sekaligus. Sebuah strategi yang disebut “Stretch, Risk, and Die”.

membangun zona nyaman
Illustration by kinah_d via Canva

Stretch

Tahap pertama untuk membangun zona nyaman adalah Stretch (peregangan). Apa maksudnya? Peregangan artinya melakukan sesuatu yang sebenarnya kita tau bahwa kita bisa, tetapi belum dilakukan karena malas atau takut.

Mulailah dengan menjawab pertanyaan “Dalam bidang apa, aku akan membuat perubahan positif dan bisa berdampak besar?” Bisa dalam aspek asmara, pekerjaan, atau kehidupan sehari-hari. Setelah mendapatkan satu jawaban, mulailah langkah kecil pada hari ini.

Risk

Sesuatu yang berisiko (risk) menimbulkan kekhawatiran bahwa ini tidak akan berhasil dilakukan. Sebenarnya kamu bisa melakukannya, tapi tidak percaya diri untuk hal itu. Bagaimana jika nanti gagal, bagaimana jika aku terlihat payah?.  Ini seperti ketakutan yang terus mengikuti.

Namun, masih dengan tema yang sama (yang sudah dipilih pada tahap stretch), ini akan memberikan kekuatan bahwa kamu bisa melakukannya. Pada tahap ini, sebenarnya kamu sudah memberikan tantangan pada zona nyamanmu. Kamu sudah membuat dirimu takut, khawatir, bahkan sesuatu yang tidak kamu duga ternyata bisa diwujudkan.

Die

Inilah tahap terakhir,  die (mati). Britten mengatakan "As in, 'If I have to do that, I'll die”. Ketika kamu memilih tahap ini, kamu akan mati. Ketika dihadapkan pada pernyataan tersebut, terbesit jawaban “Tidak ingin melakukannya”. Memikirkan saja, mungkin akan membuatmu gemetar dan ingin menyerah.

Tapi, ingat kembali bahwa ini melanjutkan tahapan sebelumnya. Bukankah kamu telah memilih sesuatu yang bisa kamu lakukan dan akan berdampak besar untuk mengubah hidupmu? Itu masih berada di zona nyaman dan ini langkah untuk memperluasnya.

Di akhir penjelasan strateginya, Britten juga mengatakan “What's a die for you may just be a stretch for somebody else”. Kita tidak bisa membandingkan sesuatu yang dipilih setiap orang dalam langkah mengubah hidup dan terus bertumbuh. Sesuatu yang menjadi tahap “die” bagi kita, mungkin menjadi tahap “stretch” bagi mereka.

Memperluas zona nyaman ini merupakan langkah untuk memotivasi dan menginspirasi diri sendiri untuk terus bertumbuh dan berdampak positif. - Britten

Jadi, jika kamu masih mempertanyakan “apakah aku harus keluar dari zona nyaman atau tetap tinggal?”, semoga artikel ini menjadi referensi untuk menentukan langkah ke depan.

 

Referensi:

https://www.waldenu.edu/programs/psychology/resource/the-pros-and-cons-of-comfort-zones

https://www.webmd.com/balance/features/expand-your-comfort-zone

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah Awal untuk Pemula: Buat Blog Yuk, untuk Rumah Karyamu

  Punya tulisan, tapi bingung mau diposting dimana? Gak percaya diri, takut tulisan dibilang lebay. Kalau kamu merasa begitu, kamu gak sendiri. Awal-awal aku mulai menulis dan mempostingnya di media sosial, merasa tidak percaya diri. Apalagi dibaca oleh orang-orang yang ku temui setiap hari. Kadang, mereka membahasnya dan mengkritik atau sekedar memberikan saran. Mendapatkan kritik dan saran, memang tidaklah buruk, justru ini bisa menjadi bahan perbaikan. Tapi, ada beberapa kritik yang kadang membuatku down. Apakah aku menyerah dan tidak menulis lagi? Tentu saja tidak. Semakin lama, aku merasa bahwa menulis adalah salah satu hal yang membuatku merasa hidup lebih bermakna. Ada beberapa teman yang berkomentar bahwa tulisanku menginspirasi mereka, menguatkan mereka, atau mereka merasa sefrekuensi denganku. Hal-hal positif ini yang aku fokuskan, sehingga aku terus menulis sampai saat ini.  Aku harap, kamu yang membaca tulisan ini juga percaya diri untuk menulis dan membagikan karyamu d